
Inforparlemensukabumi.com || Upaya pemulangan 15 warga Kabupaten Sukabumi yang sempat terkendala di Tarakan, Kalimantan Utara, akhirnya membuahkan hasil. Kepulangan mereka difasilitasi melalui kolaborasi anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Kapolres Sukabumi, serta komunitas Bagong Mogok.
Belasan warga tersebut sebelumnya berangkat menuju Sajau, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, untuk bekerja sebagai penyadap karet. Namun, kondisi pekerjaan yang ditemui di lapangan disebut tidak sesuai dengan informasi yang diterima sebelumnya.
Setelah memutuskan meninggalkan lokasi pekerjaan, persoalan baru muncul karena mereka mengalami kendala biaya untuk kembali ke Kabupaten Sukabumi. Para warga kemudian berada di Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tarakan sembari menunggu solusi untuk perjalanan pulang.
Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Hamzah Gurnita kemudian ikut mengupayakan pemulangan bersama Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi dan komunitas Bagong Mogok.
Salah seorang warga, Ujang Pijey, menyampaikan rasa syukur karena akhirnya dapat kembali ke Sukabumi setelah mendapat bantuan dari berbagai pihak.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah membantu, termasuk Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali, Kapolres Sukabumi, keluarga besar PKB, serta komunitas yang terlibat dalam proses pemulangan.
Sebelumnya, para warga mengaku mendapat tawaran pekerjaan dengan penghasilan sekitar Rp3,9 juta per bulan. Namun setelah tiba di lokasi, kondisi pekerjaan yang mereka jalani tidak sesuai dengan harapan. Setelah kurang lebih satu bulan, sebagian dari mereka memilih meninggalkan tempat tersebut.
Dari total 15 warga, sebanyak 10 orang berasal dari Kecamatan Simpenan, empat warga dari Kecamatan Warungkiara, dan satu orang berasal dari Kecamatan Cibadak.
Hamzah Gurnita menyebut persoalan tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan perlindungan warga Kabupaten Sukabumi yang mencari pekerjaan hingga ke luar daerah.
Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan informasi pekerjaan yang jelas agar tidak mengalami persoalan serupa ketika sudah berada di daerah tujuan.
“Kita tentu prihatin ketika warga kita berangkat dengan harapan mendapatkan pekerjaan, tetapi di lapangan ternyata tidak sesuai dengan yang disampaikan. Ini harus menjadi perhatian agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Hamzah.
Ia menegaskan, keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam proses tersebut. Di sisi lain, persoalan terkait keberangkatan dan kondisi pekerjaan yang mereka alami juga perlu menjadi bahan evaluasi agar masyarakat lebih terlindungi.
“Yang paling penting saat ini warga bisa kembali dengan selamat. Saya juga berterima kasih kepada Pak Kapolres beserta Ketua Umum komunitas Bagong Mogok,” tambahnya.
Kolaborasi tersebut menjadi bentuk kepedulian bersama terhadap warga Kabupaten Sukabumi yang menghadapi persoalan di luar daerah, sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara wakil rakyat, aparat keamanan, komunitas, dan masyarakat dalam memberikan solusi terhadap persoalan sosial.
